Islam dan Keragaman di Tanah Donggo Bima

PEMERINTAHAN

Donggo adalah salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Donggo merupakan salah satu suku besar yang berada di Dana Mbojo (Tanah Bima). Suku Donggo terletak di sekitar lereng gunung yang berada di antara Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu, dilihat dari letak geografisnya yang berada di lereng gunung membuat pesona desa-desa yang berada di Kecamatan Donggo semakin terlihat.

Apalagi ketika kita berada di puncak gunung Donggo yang dikenal dengan (Donggo Mbuha). Banyak sekali pemuda-pemuda Donggo juga pemuda luar yang datang hanya untuk menikmati keindahan diatas puncak Donggo. Dan dari situlah kita dapat melihat seluruh hamparan Kota Bima juga sebagian besar kabupaten Dompu dengan pesona alam yang menakjubkan.

Berdasarkan sejarah, suku Donggo merupakan suku asli dari masyarakat Bima yang menempati lereng Gunung Barat dan Timur sebelum datangnya orang-orang luar yang ikut bermukim di Bima. Yaitu yang di sebut dengan Dou Donggo Ele (Masyarakat Donggo bagian Timur) yang sekarang menjadi Desa Lambitu yang berada di bagian Timur kabupaten Bima yang sebagiannya juga bertempat di Kota Bima. Dan Dou Donggo Di (Donggo bagian barat) yang sekarang menjadi masyarakat Donggo atau yang berada di kecamatan Donggo itu sendiri.

Islam masuk ke Bima pada Abad ke 17 Masehi melalui pedagang-pedagang yang datang dari Sulawesi melalui pelabuhan Sape, menurut beberapa pendapat, Islam masuk ke Bima melalui ulama-ulama yang datang dari Demak, Jawa Tengah dan Gowa, Makassar. Penyebaran Islam di Bima dimulai dari daerah-daerah pesisir yang lebih dekat dengan jalur laut. Karena Donggo bermukim di lereng gunung, Islam masuk lebih lama dibandingkan daerah pantai.

Sebelum masuknya Islam di Donggo, ada beberapa agama yang sudah tersebar luas di Donggo, contohnya Hindu yang ditandai dengan adanya Wadu pa’a (Batu yang dipahat) dalam bentuk patung-patung Budha yang sekarang menjadi tempat wisata yang berada di Desa Sowa Kecamatan Soromandi. Kemudian adanya Kristen yang dibawa oleh orang-orang Flores Nusa Tenggara Timur, ditandai dengan adanya gereja yang berada di pintu masuk Desa Mbawa.

Kemudian agama Katolik yang ditandai dengan gereja yang sangat besar yang berada di bagian barat Desa Mbawa. Selain itu masyarakat Donggo saat itu masih banyak yang menganut kepercayaan Marafu (animisme). Mereka percaya pada roh-roh nenek moyang, pohon-pohon besar, batu, air laut juga benda-benda alam lainnya.

Menurut sejarah, masuknya Islam di Kecamatan Donggo disebarkan oleh Lebe (ulama-ulama) yang diutus oleh Kesultanan Bima. Dimulai dari desa-desa yang paling dekat dengan pesisir sampai ke desa-desa yang berada di lereng gunung. Adanya perintah dari sultan pertama Bima (Sultan Abdul Kahir) yang mewajibkan seluruh penduduknya untuk beragama Islam dan menyebarkan agama Islam ke seluruh penjuru Bima termasuk di Donggo, sehingga sampailah beberapa ulama dari kesultanan ke tanah Donggo. Berdasarkan sejarah, orang Donggo pertama yang masuk islam adalah seorang Ncuhi (kepala suku) yang memimpin daerah Donggo sehingga mempermudah bagi para ulama untuk mengajak penduduk lainnya.

Penyebaran Islam di Donggo selain melalui dakwah atau ajakan juga melalui pernikahan dengan putra-putri asli Donggo. Selain itu masyarakat Donggo juga cukup mudah menerima ajaran Islam dilihat dari cara masuk Islam yang cukup mudah dibanding dengan agama Kristen yang walaupun sudah lama terkenal di Donggo tapi sulit untuk memasukinya karna butuh waktu beberapa bulan untuk mempelajarinya terlebih dahulu.

Dan masyarakat donggo juga menyukai cara para ulama menyebarkan agama Islam sehingga mereka mampu menerima Islam dengan damai dan sesuai dengan budaya mereka. Akan tetapi ada beberapa desa yaitu desa Mbawa dan sekitarnya yang tidak sempat disebarluaskannya Islam sehingga masih ada beberapa penduduk yang masih menganut agama kristen ataupun katolik. Mereka masih percaya dengan agama yang dibawa oleh nenek moyang mereka dan sulit untuk menerima agama-agama baru.

Dilihat dari adanya sejarah dan budaya dari tanah Donggo, Desa Mbawa merupakan salah satu Desa yang menarik untuk dibahas banyak budaya-budaya unik yang dapat menceritakan Donggo secara keseluruhan. Desa Mbawa adalah Desa yang cukup Besar di Kecamatan Donggo, desa ini berada tepat di lereng Gunung Mbuha “Doro Mbuha”.

Masyarakat Desa Mbawa menganut tiga agama yang berbeda-beda dengan tingkat toleransi yang sangat tinggi.

Dalam tradisi mereka jika ada orang yang beragama Kristen atau Katolik mempunyai hajatan-hajatan maka yang akan menyiapkan makanan dan sebagainya adalah orang-orang Islam, tujuannya agar tidak adanya kekhawatiran tertentu dan tidak sungkan dalam menyajikan makanan, dan budaya itu berlaku juga untuk sebaliknya. Di Desa Mbawa juga pernah ada dalam satu rumah dihuni oleh tiga agama sekaligus. Bisa dipikirkan bagaimana tingkat toleransi yang terjadi dirumah tersebut.

Baca juga : Menjaga Kehidupan; Isyarat Kemerdekaan dalam Alquran
Desa Mbawa dan penduduknya menunjukan adanya keragaman agama/budaya serta tingkat toleransi yang tinggi dari masyarakat Donggo yang mewakili Kabupaten Bima pada umumnya. Dan semoga kita sebagai pemuda-pemuda dapat menjadi contoh yang baik bagi orang pada umumnya serta mampu menjaga kelestarian keindahan, kebudayaan serta keragaman yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *